Wednesday, September 3, 2008

Buka Bersama Alumni Smaracatur

Start:     Sep 12, '08 05:00a
End:     Sep 12, '08 09:00a
Location:     Omah-e mas Bono, nang Buncit
Buka puasa bareng-bareng alumni SMA 4 Solo yang ada di Jakarta.

Pengumuman Program Pengurangan Pegawai

Start:     Sep 3, '08 03:00a
Location:     MZ KMO Office
Jobless!!!!!

Wednesday, August 20, 2008

Hari-Hari Tidak Menyenangkan.....

Kemaren (20/8/08) gw udah secara resmi menandatangani formulir pendaftaran Program Pengurangan Pegawai 2008. Sesuai hitungan, gw cuman dapet 24,55 kali gaji (take home pay). Seandainya gaji gw guedhe, pengalinya segitu udah gede banget yak? Sayangnya gaji gw biasa-biasa ajah hehehe… Well, emang niat gw ikut program itu kan bukan karena ngincer duitnya. Tapi karena gw gak mau ikut pindah ke Makassar. That’s it.

 

Sementara itu, suasana di kantor sudah mulai  tidak nyaman. Keputusan untuk ikut program atau ikut pindah memang sangat pribadi. Kita gak bisa memaksa orang memilih salah satu jika memang tidak sesuai hati nurani. Beberapa orang dengan sadar dan antusias mendaftar ikut program ini. Salah satunya gw. Sadar karena memang tidak ada jaminan akan kelangsungan hidup perusahaan di kemudian hari jika pindah ke Makassar. Antusias karena dengan pesangon yang akan diterima kita bisa berbuat sesuatu. Terserah kita mau apa hehehe...

 

Ada seorang ibu yang menangis ketika mengetik isian formulir. Berpuluh tahun dia mengabdikan diri di perusahaan ini. Dan ketika harus pergi, bukan karena pensiun sesuai jadwal. Tapi karena hal yang tidak diinginkan dan diluar kuasanya. Ada juga yang berurai airmata di depan loyal customer sembari pamitan. Karena sudah bertahun-tahun membina hubungan baik, jadi berat rasanya ketika harus mengucapkan selamat tinggal.

 

Disamping kelompok yang menerima dengan baik PPP tersebut, ada juga yang bersiap mengikuti kepindahan ke Makassar. Faktor usia kadang membuat pegawai laki-laki memilih untuk tetap pergi. Karena mencari pekerjaan di tempat lain juga pasti berat. Perusahaan-perusahaan baru mendingan nyari pegawai yang masih muda. Lebih fresh dan gajinya gak terlalu tinggi. Iya kan?

 

Dan yang paling mencolok adalah obrolan setiap orang yang berkerumun di lingkungan perusahaan. Bisa dipastikan pembicaraan mereka gak jauh-jauh dari rencana kepindahan maupun PHK. Dari masalah mendaftar sampai nasib pengembalian pinjaman mereka ke Koperasi. Belum lagi harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga tak sesiap mereka dalam menghadapi kondisi ini. Ada mertua yang langsung sakit ketika ada teve yang menayangkan berita ini. Ada juga sang istri yang jatuh sakit karena stres. Wis..macam-macam lah pokoknya.

 

Ternyata memang pengurangan 1309 orang bukan lah hal sepele......

 

*gambar ambil disini.

Wednesday, August 13, 2008

Ku Memutuskan

Gw adalah orang yang tidak terlalu menyukai perubahan yang sifatnya drastis. Konservatif. Tapi gw rasa sebagian besar orang ketika sudah menemukan comfort zone, akan susah untuk melangkah keluar menghadapi ketidakpastian. Tapi bukan berarti gw tidak pernah mengambil keputusan besar dan penting dalam hidup gw. Mengakhiri pernikahan, berhenti menyanyi, hijrah ke Jakarta dan menikah kembali dengan konsekuensi perbedaan yang besar (agama dan usia). Tidak mudah, berdampak besar pada banyak hal, tapi alhamdulillah gw berhasil melewatinya. Paling tidak, gw bertahan dan tidak melarikan diri dari apa yang sudah gw putuskan sendiri.

Sekarang, gw juga harus mengambil keputusan. Perusahaan tempat gw bekerja sudah menyatakan akan memindahkan kantor pusatnya ke Makassar. Sebenernya lebih kepada keputusan politis sih. Karena posisi perusahaan gw yang sedang diselamatkan oleh pemerintah melalui suntikan dana. Jadi mungkin my new big boss is trying to be a nice boy to Mr. President. Salah satunya dengan menunjukkan langkah nyata memperbaiki kondisi perusahaan yaitu memindahkan kantor pusat ke Makassar. Alasannya untuk mendekatkan diri pada pasar yang selama ini sudah membesarkan perusahaan, yaitu wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Sebagai informasi, perusahaan gw memang lebih menuai untung di wilayah tersebut dibanding wilayah Barat.

Keputusan memindahkan kantor pusat dikombinasikan pula dengan upaya merestrukturisasi sumber daya manusia yang ada. Perbandingan ideal antara alat produksi dengan manusianya adalah 1 : 50. Sedangkan di perusahaan gw yang terjadi adalah 1 : 100. Jangan tanya kenapa itu bisa terjadi. Banyak hal terjadi di rezim-rezim sebelum gw masuk perusahaan. Jaman jahiliyah dimana KKN menjadi sebuah sistem yang merajai seluruh infrastruktur di Indonesia. Dan ketika krisis ekonomi menyerang serta bisnis penerbangan mengalami perkembangan sesuai tuntutan jaman, maka yang tersisa di perusahaan ini adalah kerusakan yang parah. Termasuk jumlah manusia yang luar biasa banyak sementara alat produksi makin mengecil jumlahnya. Apalagi mental manusianya juga masih terkungkung dalam paradigma lama serta budaya “pegawai pemerintah” yang membuat mereka lamban menyikapi perkembangan.

Jadi, perusahaan diharuskan mengurangi karyawan sebanyak 1309 orang. Polanya adalah melalui pendaftaran sukarela (pensiun dini). Kompensasinya lumayan meskipun gak bombastis. Tapi ada peluang ditolak jika perusahaan menganggap masih memerlukan kehadiran mereka untuk memajukan perusahaan. Jika jumlah pendaftar sukarela tidak memenuhi kuota, maka akan dilakukan pola penunjukkan.

Bagaimana dengan gw? Gw sebenernya gak ada masalah dengan fokus bisnis perusahaan yang berubah. Lebih fokus ke wilayah Indonesia Tengah dan Timur Indonesia berarti lebih banyak melayani penerbangan pesawat kecil dan perintis. Masalah gw hanyalah kepindahan ke Makassar. Suami dan 2 anak adalah pertimbangan utama gw. Kepindahan ini juga tidak menyisakan kantor penghubung di Jakarta. Gw gak mau bertahan di Kantor Perwakilan Jakarta yang akan mengalami penurunan level. Soalnya tidak banyak yang diurusi. Jadi kalo toh gw minta tempat disitu juga gak akan membuat gw menjalani karir yang lebih bagus.

So? Gw memutuskan untuk mendaftar program pensiun dini saja. Berapa yang gw peroleh? Gak tahu. Soalnya belum diluncurkan secara resmi. Bagaimana setelah itu? Gw juga belum tahu. Pastinya sih gw tetep mencari pekerjaan. Karena pengalaman Nyokap gw  sangat membekas. Ketika ditinggal mati Bokap, dia dalam posisi tanpa pekerjaan tetap. Alangkah bingungnya dia kala itu. Fisiknya lemah, jadi gak bisa kerja kasar. Tapi peluang kerja juga gak semudah yang dibayangkan. Itulah kenapa gw harus memiliki pekerjaan tetap. Just be prepare toh? Tapi jangan didoain yaa…hehehe..

Sedih rasanya. Hari-hari belakangan ini di kantor suasananya mulai muram. Tidak hanya karena harus memikirkan untuk mencari pekerjaan lain, tapi juga perpisahan dengan orang-orang yang sudah kita kenal sekian lama. Apalagi jika mereka sudah bekerja belasan atau puluhan tahun. Teman-teman sekerja tentunya sudah serasa sodara sendiri. Belum lagi memikirkan nasib para office boy, messenger, dan mereka yang memiliki keterbatasan dari sisi ketrampilan pendidikan maupun usia. Pasti berat untuk memperoleh pekerjaan baru. Padahal keluarganya terbiasa mengandalkan dia sebagai tulang punggung. Kasihan kan…..

Dan belum lagi bangsanya tukang jualan VCD bajakan, tukang jualan kue, tukang jualan baju, tukang pijit, dan tukang-tukang lain yang selama ini leluasa melayani pelanggan setia di kantor gw. Bingung? Hehehe…kantor gw ini memang baik hati. Hidupnya susah pun masih memberikan kesempatan bagi orang-orang seperti mereka untuk mencari rejeki. Mungkin hal-hal begini juga yang gw kangenin kalo udah gak ngantor lagi disini…….

*sediiiiiiih……..*

Monday, July 28, 2008

Persahabatan Itu Indah

Persahabatan itu memang indah. Tidak heran kenapa gw sangat menjunjung arti persahabatan. Meskipun, tidak jarang orang-orang yang gw anggap sahabat (bahkan gw anggap kerabat) ternyata menganggap gw bukan siapa-siapanya. Seperti kena pukulan telak,”Ge-eR amat sih lo…….”. Diawal gw beranjak remaja, pengalaman diabaikan oleh orang yang kita anggap sahabat sering membuat gw sakit hati. Tapi seiring berjalannya waktu, gw lebih bisa memaknainya sebagai satu fase dalam kehidupan yang harus gw lewati. With or without them, gw harus tetap menapaki masa depan toh?

 

Beberapa hari lalu gw menunggu kakak nomer 2 yang lagi dirawat di RS M.H. Thamrin – Salemba. Selama menunggui dia dikamarnya, maupun pada saat dia menjalani operasi, gw banyak bertemu teman-temannya. Bahkan, beberapa diantara mereka pula lah yang merawat dan membawa kakak gw ke rumah sakit. Untuk masuk rumah sakit kan harus ada deposit. Dan mereka pula yang menyediakan. Tanpa sedikit pun membuat itung-itungan dengan kakak gw. Yang penting sehat dulu, kata mereka. Hampir setiap teman yang datang menengok, pasti menitipkan sejumlah uang untuk mengurangi beban biaya rumah sakit.

 

Sungguh, gw sangat terkesan!

 

Mereka ini pun tidak hanya membantu secara finansial, tapi juga mau direpoti dengan mengurusi segala keperluan kakak gw selama sakit. Bahkan baju kotornya juga mereka pikirkan. Kalo mereka bekerja, istri-istri mereka yang mengantarkan makanan dan keperluan lain ke rumah kontrakan kakak gw. Luar biasa! Nampak sekali kalo mereka benar-benar sayang, bukan didasari kepentingan-kepentingan gak penting.  Dan perhatian mereka tulus, tanpa mengharap kakak gw akan memberikan sesuatu sebagai balasan. Kecuali satu permintaan bahwa kakak gw harus pulang dengan kondisi sehat.

 

Rasanya haru sekaligus iri. Karena belum tentu ketika gw mengalami kondisi seperti dia, gw akan memperoleh perhatian yang luar biasa seperti yang dia peroleh. Tapi gw sangat sayang pada kakak gw. Jadi, Alhamdulillah - Terima kasih, Ya Allah…telah Engkau jaga kakakku dengan caraMU. Dan teman-teman gw semuaaaa….doain kakak gw supaya lekas sembuh yaaaa….. Terima kasiiih…..

 

 

 

*foto diambil ketika kakak gw mau meninggalkan ruang pemulihan dan kembali ke kamarnya

Sunday, July 20, 2008

ON/OFF

Dan dimulailah hari-hari yang menyedihkan itu…..

 

Mulai hari ini (21/7/08) , gw kembali menjalani hari-hari kerja bergiliran. Maksudnya, seminggu ini adalah jatah libur (off) gw. Karena mulai hari ini, di divisi gw mulai memberlakukan jadwal masuk kerja bergiliran. Kalo sesuai Skep Direksi, harusnya sudah boleh diberlakukan mulai tanggal 15 bulan Juli ini. Tapi karena beberapa pertimbangan, boss gw memilih untuk menerapkannya mulai hari ini. Di divisi gw, polanya dibagi 2 kelompok. Kelompok pertama masuk minggu ini, dan kelompok kedua masuk minggu berikutnya. Begitu seterusnya sampai keputusan mengenai program efisiensi ini dicabut kembali. Program efisiensi? Yup. Kantor gw tengah berada dalam situasi krisis. Salah satu upaya untuk menekan biaya operasional adalah dengan mengurangi biaya uang makan & transpor. Jadi, hari kerja pegawai non operasional dikurangi setengahnya. Efektif? Menekan biaya, ya ada pengaruhnya. Menumbuhkan sense of crisis? Ummmmm...not really. Karena banyak kebijakan manajemen yang masih mendua sehingga banyak karyawan yang masih belum ”ngeh” bahwa perusahaan dalam situasi krisis. Bahkan ada temen yang punya utang ke koperasi dan selalu mengeluh soal biaya sekolah anak, tapi ketika ada temen menawarkan baju batik seharga 300 rebu-an eeh...dibeli juga. Dimana krisisnya...gw gak tahu. Tapiii...asal tahu aja, perusahaan gw memang sudah bertahun-tahun dideklarasikan merugi dan perlu diselamatkan. Entah kenapa, selalu survive hehehehe.... Bulan lalu RI-2 sudah memutuskan untuk mempertahankan perusahaan ini. Meskipun Ibu Sri Mulyani tegas menyatakan : Likuidasi sajah, habis perkara. Well, kita tunggu saja apa yang akan terjadi kemudian. Namanya juga BUMN hehehe....

 

Bukan sesuatu yang baru sih. Justru karena gw pernah mengalaminya pada tahun 2005 -2006 maka gw bisa memastikan bahwa hari-hari kedepan akan sangat menyedihkan. Kenapa? Karena sebagai manusia di usia produktif, gw tidak memiliki kesempatan untuk mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Gaji sih gak dipotong. Bahkan boleh dibilang saat ini naik gaji karena kerja setengah bulan tapi bayaran penuh. Tapi sebagai individu yang pengen maju tentunya kondisi seperti itu sangat tidak menyenangkan.

 

Gw ingat pada bulan Juni – Juli 2005 ketika gw menghabiskan sisa cuti 2004 yang digabungkan dengan jatah libur. Praktis selama 1 bulan gw berada dirumah tanpa melakukan apa-apa. And you know what? Gw seperti kena serangan depresi. Selama beberapa malam gw sempat dihantui ketakutan bahwa gw besok akan mati. Otak gw seperti tersumbat dan nyaris tidak bisa diajak berpikir jernih. Alhamdulillah gw masih waras sehingga serangan itu bisa gw atasi dengan diskusi bersama suami dan teman dekat. Alhamdulillah!Kalo gak kan gw terpaksa menginap di Grogol! Hahaha...... Setelah gw pikir-pikir, sebagai orang yang terbiasa bekerja di kantor lalu tiba-tiba harus tinggal dirumah tanpa melakukan kegiatan apapun, gw sedikit syok. Waktu itu memang gw gak punya rencana untuk melakukan apa-apa. Paling-paling program nambah anak. Dan memang ternyata ketika gw hamil, gw jadi lebih bisa menikmati jadwal kerja yang bergiliran seperti itu.

 

Pengalaman itu membuat gw sekarang harus lebih siap menghadapi hari-hari menyedihkan ini. Gw gak boleh kalah. Beberapa rencana pribadi sudah gw persiapkan. Doain aja yaa?

 

Ataw ada yang mau nawarin kerjaan?

 

 

Monday, July 7, 2008

Terkunci Jilid 2

Pernah baca yang ini kan?

Kemaren (7/7/08) kembali terulang kejadian yang sama. Bermula dari sms sepupu gw (babysitter-nya Emil lagi mudik, jadi gw terpaksa impor tantenya dari Solo) yang mengabarkan kelakuan anak sulung gw.

”Adeknya dikunci di kamarmu, Mbak”. Hadduh! Emosi sudah mulai naek. Ditambah lagi, ”Malahan adeknya tiba-tiba sudah didalam kamar mandi dan tereak-tereak minta dibukain”. Hhhhhhh....emosi makin meninggi....

 

Acara town hall meeting di kantor gw tinggal dulu. Rasanya udah pengen mengomel panjang pendek ke si sulung. Seperti biasa, jawabannya tidak bertanggungjawab dan tambah bikin marah. Duhhh!!!! Percakapan ditelpon berakhir dengan ancaman menyita playstation jika kelakuan tidak berubah.

 

Karena waktu sudah mendekati waktu pulang, maka gw memutuskan untuk tidak kembali ke town hall meeting. Toh sudah banyak yang handle, pikir gw. Akhirnya gw memilih sholat Ashar dan dilanjutkan dengan mencari tebengan pulang. Sambil menunggu konfirmasi tebengan, tiba-tiba ada sms masuk lagi. Dari sepupu gw : “Anakmu bar ngunci dw nang kmr bwh. Aku wis njaluk tlg satpam n ud bs lwt atas pintu. Ki satpam 2 dikei piro?”. Translation : "Anakmu baru saja mengunci dirinya sendiri di kamar bawah. Aku udah minta tolong ke satpam dan udah bisa lewat atas pintu. Ini 2 orang satpam dikasih berapa?”

 

Haddduuuuhhh.......!

 

Untungnya sepupu gw cukup cerdas jadi tidak seketika menelpon gw ketika kejadian berlangsung. Dia tunggu sampai semua terselesaikan dengan baik dan benar baru mengabari gw. Itupun karena dia tidak tahu harus memberi uang lelah berapa rupiah kepada para satpam. Jadi, kejadiannya itu berlangsung setelah Emil selesai dimandikan. Sepupu gw beranjak ke dapur untuk menumis sesuatu. Tapi mendadak terdengar suara,”Cekrek!”. Pembantu di rumah langsung berteriak, ”Emil??!!” dan teriakan itu menyadarkan sepupu gw bahwa Emil terkunci didalam kamar.

 

Sepupu gw mencoba tenang. Dia pergi ke jendela yang terletak didepan. Untungnya tidak sedang dikunci. Jadi dia bisa berkomunikasi dengan Emil. Diajak ngobrol dan diarahkan untuk dapat membuka kunci pintu.

”Emil, diputer kekanan yaa...”.

Dan si Emil memutar kunci kekiri. Lhah...jadi ngunci 2 kali dong??

”Puter kekanan, Emil...”. Baru dia puter kekanan. Sekali ajah. Dduuuuuuh..... . Kondisi ini berulang-ulang dan akhirnya membuat Emil mulai bosan dan ingin keluar.

”Bukaa...bukaaa...”, teriaknya sambil menggedor-gedor pintu. Udah mulai menangis.

Sang tante juga mulai panik. Segera dia minta pembantu yang sebelumnya cuman fashion show bolak balik depan pintu kamar untuk mengambil alih tugasnya menemani Emil dari jendela kamar. Oh iya...jendela ini berteralis, boo.. Jadi tidak bisa untuk lewat Emil.

 

Selanjutnya sepupu gw menelpon pos satpam dan datanglah bala bantuan. Kenapa jadi banyak sekali, karena proses penyelamatan yang melewati lubang angin diatas pintu menuntut postur seseorang yang tidak terlalu besar. Sementara 2 orang satpam yang datang pertama kali body-nya gede-gede.

 

Alhamdulillah drama yang menurut sang tante berlangsung setengah jam lebih itu akhirnya berakhir damai dengan bantuan 3 orang satpam! Dan para satpam sebelum meninggalkan rumah gw berujar,” Emiiiil...Emiiil.....”. Pastinya dengan senyum dan geleng-geleng mode on. Pheewww........