Showing posts with label isk. Show all posts
Showing posts with label isk. Show all posts

Saturday, March 10, 2007

Celana Dalam Imut


ISK Emil yang berkepanjangan membuat gw harus melakukan berbagai upaya untuk menyikapinya. Salah satunya dengan mengurangi pemakaian popok sekali pakai (pospak). Meskipun sebenarnya setelah ada pengasuh, Emil hanya sekali menggunakan pospak yaitu malam hari. Atau kalau sedang pergi jalan-jalan. Berbeda dengan ketika baru lahir. Kalo gw udah kecapekan dengan urusan gonta ganti popok atau celana (maklum,bow…ASI, jadi sering banget pup ;-p), langsung deh gw pakai pospak. Beres! J


 


Saat ini malam hari pun Emil tidur tanpa pospak. Tidurnya musti dialasi plastik (perlak). Sebenernya kalo malam hari anak gw ini relatif jarang pipis. Biasanya dia pipis kalo memang sudah waktunya bangun. Hanya kadang-kadang kalo udara terlalu dingin atau minumnya banyak, dia suka pipis sekali ditengah malam.


 


Nah, karena lebih banyak gak pakai pospak, akhirnya gw beliin dia celana dalam. Meskipun Emil udah dilatih pup pakai potty, tapi namanya anak-anak kan suka diluar kehendak. Kalo pake celana biasa ya jelas kemana-mana pupup-nya J. Pipisnya juga. Kalo cuma pakai celana selembar, pipisnya lebih mudah merembes. Makanya gw beli celana dalam bayi itu.  Waktu pertama kali lihat wujudnya, gw setengah gak percaya. Masa ada sih?? Well…it’s true. Memang ada J. Sampai tetangga gw berkomentar,”Wah..Emil gaya bener, kecil kecil udah pake celada dalem..” hehehehe…Lihat sendiri deh. Imut-imut banget kan?

Saturday, February 24, 2007

Buah Hati Ibu

Go to fullsize imageGw gak tahu, apakah setiap ibu akan merasakan hal yang sama seperti yang gw rasakan. Ketika buah hati kita diserang penyakit, rasanya kita sepenuhnya rela menyerah diri untuk menggantikannya. Dan ketika kita tak sanggup berbuat apa-apa, perasaan takut kehilangan begitu erat membelenggu kita. Bahkan gw sempat trauma bahwa gw akan ditinggalkan lagi, seperti kala orang-orang terkasih gw (Papi Farouk, Mamah Ade, Oom Eddy) pergi meninggalkan gw. Kadang gw berpikir,"Ah..mungkin gw yang terlalu berlebihan...". Tapi gw sendiri gak tahu bagaimana menghentikannya.


Beberapa waktu lalu Emil didiagnosa terkena Infeksi Saluran Kemih atau ISK. Pemeriksaan lab selanjutnya menyebutkan kalau bakteri yang menyebabkan infeksi adalah E. Coli dengan jumlah signifikan 100,000/ml. Hasil lab untuk kultur dan resistensi ternyata hanya ada 1 jenis antibiotik yang sensitif terhadap bakteri tersebut dan yang bisa dikonsumsi Emil. Obat-obat lain biarpun sifatnya sensitif diterima bakteri, tapi tidak berupa obat oral. Semua injeksi. Artinya harus stay di rumah sakit kan? Sementara ada 1 jenis obat oral lainnya yang sensitif tapi hanya bisa dikonsumsi untuk usia 12 tahun keatas.


DSA Emil sudah memberikan obat itu sebelum hasil lab untuk kultur & resistensi keluar. Bingo! Ternyata memang hanya obat itu yang bisa diberikan . Setelah hasil lab keluar, DSA tinggal melanjutkan pemberian obat tersebut. Dosisnya sudah 150mg. Lumayan tinggi untuk anak gw yang baru berusia nyaris 8 bulan waktu itu. Pengobatan diberikan selama 10 hari. Setelah itu, istirahat minimal 3 hari, baru cek lab lagi. Untuk melihat apakah infeksinya sudah pergi.


Sewaktu melihat kondisi fisik Emil sih...semua baik-baik saja. Gak ada yang aneh, gak ada yang memburuk. Kondisi-kondisi seperti pipis warna merah atau kristal-kristal menggumpal yang menyertai air seninya sudah perlahan pergi. Memang pas dibawa ke dokter spesialis bedah anak untuk dilakukan dilatasi sebagai upaya menanggulangi phimosis-nya, memang sempat memerah ujung penisnya. Mungkin karena dipaksa supaya lebar. Alhamdulillah sesudah itu segalanya membaik. Menurut kacamata gw......


Hari ini, rencananya mau cek lab sekaligus ketemu DSA-nya Emil. Ternyata DSA-nya lagi seminar. Gw hanya bicara ditelpon & katanya disuruh bacain hasil lab kalau sudah keluar. Tapi ketika akhirnya hasil lab ditangan, gw malah gak bisa ngobrol ama dia. Telpon gw gak dijawab. Yaah...mungkin lagi seminar kan? Sementara gw mulai panik melihat hasil lab yang tetap mengindikasikan adanya infeksi. Malahan untuk kadar protein yang tes sebelumnya hanya ditulis positif (+) sekarang sudah menjadi positif 2 (++). Pikiran gw langsung kacau. Ketakutan terbesar gw kalau kalau infeksi sudah menyerang tempat lain. Takutnya keberadaan protein ini karena ada kebocoran pada fungsi ginjal.


Haduuuh....gw panik suranik deh..


Berhubung DSA-ny gak bisa dihubungin, akhirnya gw milih ke DSA lain tapi masih di rumah sakit yang sama, masih di Permata Cibubur. Pertimbangan gw karena medical record-nya masih terdata lengkap disitu. Kalau ada apa-apa lebih gampang menelusurinya. DSA yang ini lebih senior sih, laki-laki dan memiliki gaya berkomunikasi rada kenceng. Galak kalau gw boleh bilang. Tapi menjelaskannya juga runut. Jadi disatu sisi gw rada tenang. Karena menurut dia, beberapa ketakutan gw itu memang iya kalau secara teori. Tapi untuk menuju kesitu juga bukanlah sesuatu yang mudah. Maksud gw, ketakutan gw kalau infeksi sudah ke ginjal juga bukan serta merta mudah terjadi. Teorinya memang begitu kalau didiamkan atau telat penanganan. Tapi...gw kan juga gak yakin kapan anak gw mulei terinfeksi? Bisa saja karena daya tahan tubuhnya yang bagus, maka dia gak nampak separah yang orang kira?


Gw makin kalut sebenernya ketika DSA ini bilang kalau ternyata anak gw gak sembuh juga, berarti ada kecurigaan bahwa ada kelainan anatomi dalam tubuh anak gw. Duuh!!! Sesuatu yang tidk mudah untuk diobati kan? Gw bertanya peluang melakukan koreksi, ya dijawab dengan pisau bedah. Walaaaaaaaaaaaaaaahhh...


Ibu manapun pasti tidak akan tega menyaksikan anaknya masuk ruang operasi. Iya kan? Saat ini DSA itu memberikan antibiotik yang sama tetapi dengan dosis yang dinaikkan sedikit menjadi 160mg. Untuk 10 hari kedepan. Gw berharap semoga terjadi perubahan yang berarti. Sehingga anak gw tidak perlu mengalami berbagai macam kegiatan medis yang syerem-syerem, seperti dioperasi misalnya.


Doain yaaa....???


 

Wednesday, February 7, 2007

Emil vs ISK


Jumat 2/2/2007, pas banjir mulai melanda Jakarta, anak gw yang masih 7 bulan mulai sering muntah. Mungkin kalo dari awal kelahirannya dia biasa gumoh, gw gak khawatir. Biasanya dia belom sempet dibikin bersendawa pun, gak masalah. Pokoknya anak gw ini kagak ngrepotin lah…J . Hari Jumat itu, sekitar menjelang maghrib dia mulai muntah. Dikit sih….tapi tetep menurut gw gak wajar. Malamnya, gw yang gak bisa lelap tidur (karena suami gak pulang,bow..kantornya kebanjiran dan banyak pasukannya yang gak bisa masuk kantor, maka akhirnya dia menginap disana L ) dikejutkan ketika Emil muntah jam 2 dini hari. Gw panik karena sendirian. Setelah dibersihkan dan ganti baju, dia bisa bobok lagi. Tapi jam 4 pagi setelah gw susuin, gak tahu kenapa dia muntah lagi. Kali ini banyak banget karena memang abis minum kan…Gak cuma badan dan baju dia, tapi juga baju dan badan gw. Terpaksalah gw membangunkan pengasuh Emil., gak sanggup gw handle sendirian L .



Hari-hari selanjutnya Emil memang jadi gampang muntah. Karena badannya gak panas, jadi gw pikir ya mungkin karena masuk angin. Maklum, Jakarta dingin banget hari-hari itu. Hujan gak berhenti mengguyur selama beberapa hari. Paling Emil gw banyakin pake minyak telon. Soalnya hari-hari biasa justru menghindari pemakaian minyak, bedak atau krim yang gak perlu. Maklum ya,bow…anak gw ini kulitnya alergi macem-macem hehehe.. Namun karena gak berkurang juga, kecurigaan gw bergeser bahwa ini bukan sekedar masuk angin. Selama bulan Januari, dia memang minum obat beberapa kali dari DSA-nya. Berikut vitamin sebagai suplemen makanan. Bermula dari gejala flu tanggal 1 Januari lalu, karena suhunya meninggi, DSA meresepkan puyer yang mengandung antibiotik. Setelah minum obat, tak berapa lama Emil muali berwarna pipisnya. Gw pikir karena pengaruh minum obat. Soalnya ketika berhenti minum obat, pipisnya gak papa. Tapi Emil minum obat lanjutan lagi di pertengahan Januari karena flu-nya belom sembuh bener, ditambah Apialys sebagai vitamin. Pipisnya mulai berwarna lagi dan disertai munculnya serbuk/kristal kayak garam gitu. Gw minta pemberian vitamin distop dulu karena obat sudah habis. Awalnya cuman diberi 2 hari sekali. Hasilnya memang hilang, tapi nanti timbul lagi. Akhirnya gw putusin untuk menghentikan total. Setelah 3 hari berhenti, ternyata pipisnya tetep berwarna merah dan mengandung butiran-butiran kristal. Gw langsung sadar, pasti ada yang salah!



Gw langsung bawa ke DSA yang ada di Permata Cibubur. Berhubung hari Senin DSA yang biasa pegang Emil dan Ian gak praktek, gw milih DSA lain yang tidak terlalu banyak antrinya. Begitu Emil diperiksa, si DSA ini mencurigai Emil kena ISK = Infeksi Saluran Kemih/Kencing . Infeksi saluran kemih umumnya disebabkan oleh bakteri Gram negatif (Escherichia Coli) yang berasal dari saluran cerna, kelainan bawaan pada saluran kemih seperti lubang kulup yang terlalu kecil (phimosis), atau letak lubang uretra yang tidak normal. Selain itu juga disebabkan adanya batu saluran kemih, sering menahan kemih atau sembelit (kelainan bawaan pada saluran kemih seperti lubang kulup yang terlalu kecil). DSA ini menyarankan untuk tes urin lengkap, serta tes kultur & resitensi-nya untuk mengetahui kumannya lebih lanjut. Istilahnya dibiakkan.



Malam itu juga gw nongkrong di laboratorium Permata Cibubur. Gw rada sebel sama orang lab-nya. Gak helpful sama sekali. Pastinya dia belom pernah punya anak kecil. Gak pernah ngerasain susahnya ngumpulin air seni anak bayi umur 7 bulan..hu-uuh..!! Karena ditolak malam itu dengan alasan harus urin pagi sebelom jam 9, maka gw beserta rombongan sirkus pulang kandang. Berbekal urine collector, berharap besok pagi bisa menampung urin segar pagi hari.



Selasa pagi terpaksa gw gak masuk kantor (kalo hari Seninnya sih diliburkan karena banjir). Kasian deh sama si Emil. Bolak balik dipaksa pipis. Giliran keluar malah meleset dari urine collector-nya hehehe. Akhirnya dapat dikit. Gw paksa untuk bisa diterima sama lab-nya Permata Cibubur. Dan again…. Meet the same person!! Urin diterima tapi hanya untuk tes urin lengkap. Sementara untuk yang kultur & resistensi harus dalam jumlah banyak dan ditaroh di wadah steril. Penyampaian si orang ini memang menyebalkan. Kesannya makin mempersulit posisi gw yang sudah sulit. Banyak banget syaratnya, seolah-olah kayak mau tes penyakit apaaa gitu…Sebel deh..Dibilangnya harus 1 wadah penuh. Minimal setengahnya. Gilaa…Mana ada kencing bayi sebanyak itu? Belom lagi pas gw udah lamaaaa nungguin di lab, pas Emil pipis dan gw serahin ditolak karena udah jam 10 lewat. "Harus urin dibawah jam 9 pagi,bu..", dengan gaya sok ramah tapi memuakkan! Bete!..



Akhirnya gw cuman ngambil hasil lab urin lengkap (urinalisa). Gak paham-paham banget sih…tapi yang jelas kalo beda dengan nilai rujukan artinya ada yang gak semestinya toh? Akhirnya gw telpon adek kelas gw yang lagi kuliah spesialis anak di FK UGM. Erithrosit dan Leucosit-nya yang lebih tinggi dari nilai rujukan disinyalir sebagai tanda adanya infeksi. Protein dan juga nitrit yang ditemukan dalam urin kemungkinan mengindikasikan adanya kebocoran. Nah..ini yang bikin gw takut. Karena kalo infeksi telat bisa menjalar ke ginjal dan lain-lain. Takut aja kalo kebocoran itu karena fungsi ginjalnya terganggu..Oh, tidaaaaaaaaakkkkk…Gw makin parno aja ngebayanginnya.



Selasa siang, gw balik lagi ke Permata Cibubur karena DSA yang kemaren praktek lagi hari itu jam 2 siang. Eh, pas mau berangkat (nebeng tetangga gw yang baek hati, karena suami gak bisa ninggalin kerjaan dan kalo naek taksi terlalu dekat jadi gak mau di-order via telpon) gw di-sms kalo jam prakteknya berubah jadi jam 4 sore. Tapi gw tetep berangkat aja. Mendingan nunggu disana daripada nanti berangkat sore gak punya tebengan hehehe..Apalagi kalo tiba-tiba turun hujan lagi. Repot kan? Jadilah gw serasa piknik di rumah sakit J . Si Ian juga gw suruh langsung kesitu aja selepas pulang sekolah. Ternyata, DSA yang ini rada-rada ajaib. Setelah konfirmasi ke perawatnya, kemungkinan jadwal yang jam 4 sore itu masih belum pasti. Sementara DSA langganan anak-anak gw hari itu sifatnya on call. Jadi kalo gw mau pindah, belom tentu bisa. Dan gw liat memang belom ada pasien yang nge-daftar untuk hari itu. Nah lho…



Tiba-tiba papinya Emil telpon dan bilang kalo dia bisa balik cepet. Ya sudah…silakan menyusul J . Alhamdulillah lagi, pas gw tinggal ke musholla untuk ashar, balik-balik suami gw udah duduk manis dan bilang kalo ternyata DSA-nya Emil ternyata datang. Jadi langsung dipindah ama suami dan dapat nomer 1. Dan benar saja, melihat hasil lab memang Emil kemungkinan besar kena ISK dan juga phimosis. Memang gak panas tapi gejala lain ya sering mual dan muntah. Dokter hanya memberi antibiotik berspektrum luas, sambil menunggu hasil lab untuk kultur dan resistensi urin. Kalo sudah keluar baru dikasi obat yang memang tepat peruntukannya. Kan harus ketahuan si kuman ini jenisnya apa dan resisten terhadap obat apa, iya to? Dijelaskan juga, salah satu tindakan mengatasi phimosis adalah melalui sunat. Waduh…gw masih ngeri membayangkan Emil yang seimut itu harus disunat? Tapi untuk tahap awal, dokter memberi pengantar ke dokter Spesialis Bedah Anak agar dilakukan dilastasi (pelebaran). Kalo tindakan ini tetap tidak membuahkan hasil dan infeksi kembali berulang, maka mau tidak mau ya harus disunat. Walahh…….


Keesokan harinya, perjuangan mendapatkan urin Emil kembali terjadi. Dari subuh gw ama suami sudah berusaha, tapi ternyata meleset dan tumpah..L . Gw putuskan untuk berangkat kantor agak siang, paling tidak menunggu urin Emil terkumpul untuk bisa gw bawa ke lab. Akhirnya setelah bolak balik nongkrongin, bujuk-bujuk, nunggu-nunggu…akhirnya dapat juga! Horee…. J . Sekitar jam setengah delapan gw ama suami berangkat ke kantor sekalian mampir ke Prodia Cibubur. Soalnya setelah gw tanya-tanya disitu, urin yang dibutuhkan hanya sekitar 10cc, gak harus 1 wadah penuh. Dan gak harus urin sebelom jam 9 pagi. Kalo disarankan pagi tuh cuma karena disitu gak bisa proses sendiri. Jadi harus dibawa ke Kramat. Sementara yang di Kramat lagi banjir. Makanya musti pagi-pagi. Nah..yang ini pertimbangannya lebih masuk akal buat gw. Dan gak bikin gw lebih panik.



Setelah masukin urin ke lab, Emil boleh minum obat anti biotiknya. Memang langsung berkurang. Sambil menunggu ketemu dokter Spesialis Bedah Anak yang rencananya hari Sabtu ini ( 10/2/07 ), dan hasil lab yang masih Rabu depan, doain Emil semoga tidak menjadi lebih buruk yaaa……Terima kasih..J