Showing posts with label berpasangan. Show all posts
Showing posts with label berpasangan. Show all posts

Friday, June 22, 2007

True Love

Semakin bertambah usia kita, semakin bertambah pula kematangan kita dalam berpikir. Well, untuk beberapa orang pada beberapa hal ternyata hal itu tidak berlaku semestinya. Khususnya dalam hal percintaan. Cinta? Yup...entah cinta sejati atau cinta semu atau apalah namanya

 

Apakah ada yang namanya cinta sejati?

 

Beberapa sahabat gw masih ada yang melajang hingga usia diatas kepala 3. Kenapa? Pastinya mereka mengharapkan mendapat yang terbaik. Mendapatkan yang namanya cinta sejati, true love, soulmate and so on.

 

Apakah ada?

 

Satu kali, sahabat laki-laki gw mengirim SMS : ”I’m having an affair with my boss”.

Sumpah serapah gw memenuhi layar ponsel. Gila apa?? Istrinya sedang mengandung anak pertama, dia malah membuat pengakuan sedemikian rupa. Memang sih, dia menghubungi gw karena dia ingin berhenti. Dia tahu dia salah. Dia hanya membutuhkan peneguhan bagaimana menghentikan semuanya.

 

Satu hari, junior gw (laki-laki, menikah, 1 anak) juga menelpon,”Mbak, aku ada masalah nih sama cewek. Aku pengen berhenti. Tapi gimana caranya?”. Masalah yang dimaksud yaa sama juga sami mawon dengan teman gw sebelumnya. Sama-sama teman kantor, tapi bukan bos-nya. Junior gw ini juga tahu dan menyadari kalo dia salah, trus ingin berhenti.

 

Dan tiba-tiba kemarin sahabat gw (cewek, menikah, 2 anak) mengirim SMS bertubi-tubi dan akhirnya menelpon karena slow response gw. ”I’m in love with a married guy...”. Dia ingin berhenti juga karena merasa sangat tidak berharga diri jika tetap mencintai laki-laki beristri. Tapi belum menemukan caranya bagaimana.

 

Kasus yang terakhir membuat gw sedikit syok. Karena dia cewek, karena dia pernah bercerai juga sebelumnya (tapi bukan karena perselingkuhan), karena gw lumayan kenal suami dan anak-anaknya. Gw merasa kecewa dan sedih.

 

Jadi, apakah sebenarnya ada yang namanya cinta sejati?

 

Sunday, April 22, 2007

3 Tahun, 3 Kali Lebih Mencintai...

Start:     Jun 23, '07 7:00p
Location:     Jakarta
Our 3rd Anniversary. It's been 3 years, but I do love him more than ever. I thank to you, God, for every bless you gave us...

Sunday, January 28, 2007

Eternal Flame

Seorang temen yang berprofesi sebagai psikolog mengeluh. Capek katanya seminggu penuh menghadapi kasus perselingkuhan. Dia baru menyadari kenapa banyak rekannya yang menghindari konseling perkawinan. Ternyata memusingkan!


Yaah..dia yang berprofesi sebagai psikolog aja pusing. Apalagi gw yang bukan? Idealnya mungkin bisa memisahkan emosi dengan teori. Maksudnya bisa menghadapi masalah secara profesional. Kalo dengerin klien, ya mungkin dilihat aja dalam kerangka permasalahannya seperti apa. Tidak perlu dibawa ke hati kita. Apalagi sampai dipikirin berlarut-larut. Bikin stres kan?


Temen gw menjawab,"Psikolog juga manusia …."


Hahahaha…


Yup..It’s true..Apapun profesi kita, kita tetep manusia. Makhluk yang memiliki keterbatasan, yang memiliki banyak kekurangan juga. Apalagi jika kita berdiri sebagai makhluk sosial. Keterkaitan kita dengan sekeliling pastinya tidak bisa dengan mudah kita hindari. Terlebih lagi jika kita punya tanggung jawab moral. Tentu susah bagi kita untuk bersikap apatis, tidak peduli. Susah ya?


Oke deh..kembali ke masalah yang dibicarakan temen gw yaitu soal perselingkuhan. Ternyata gak peduli miskin atau kaya, tua atau muda, berpendidikan atau tidak, semua bisa mengalami. Rada mengerikan yak? Buat kita yang memiliki prinsip monogamis, sangat menjunjung tinggi lembaga perkawinan, mungkin memang menyeramkan. Tapi gw juga gak tahu, apakah dengan demikian artinya juga menyenangkan buat mereka yang menjalankan praktek perselingkuhan ini? Wallahualam…Gw gak berani menghakimi. Soalnya gw yakin mereka juga pasti punya alasan kenapa mereka melakukan itu. Mungkin sesuatu yang bener-bener gak bisa kita pahami? Who knows…


Yang jelas, gw selalu berdoa pada Allah SWT supaya gw dijauhkan dari hal-hal seperti itu. Kegagalan gw yang sebelumnya membuat gw selalu ingin mawas. Meskipun kegagalan gw yang dulu bukan karena perselingkuhan hehehe…Namun begitu ada sesuatu yang berbeda dalam hubungan gw dengan pasangan, selalu gw usahakan untuk bisa dikomunikasikan. Kalo memungkinkan juga langsung dicari pemecahannya. Jalan keluarnya seperti apa. Kadang gw juga lebih banyak intropeksi, kenapa bisa begini? Kenapa bisa begitu? Karena menjaga supaya api cinta yang kita miliki tetap menyala, bukan hal yang mudah juga. Dalam perjalanan, setelah bertahun-tahun hidup bersama pastinya ada pasang surut. Adakalanya kita sangat menggebu-gebu mencintai pasangan kita. Tapi kadang juga hasrat kita seperti terhempas dititik yang paling bawah. Nah, kalo lagi begini, godaan akan mudah menggelitik keyakinan kita. Selama ini kita sangat yakin dengan pasangan kita, dengan perkawinan kita, dengan tujuan hidup kita….trus tiba-tiba muncul sesuatu yang sangat menggoda. Membuat kita mempertanyakan kembali keyakinan kita tersebut. Apakah selama ini yang gw jalani udah bener?


Well, kalo udah sampai pada kondisi seperti itu, pastinya rumit. Menyelesaikannya sendiri mungkin juga gak mudah. Kalo gw pasti butuh konseling hehehehe…. Tapii…selama ini gw berusaha untuk tidak terlanjur berada pada kondisi yang membuat kita gamang. Jika sudah mulai jenuh, capek, bosan…gw harus cari cara untuk mengembalikan semangat gw. Buat gw sih gak perlu ribet, cukup nonton bioskop berdua saja sudah bisa membantu. Jika ada pikiran bahwa orang lain lebih baik dari pasangan gw, biasanya gw akan melihat kembali kedalam diri gw. Kembali kemasa lampau, masa dimana gw dipertemukan dengan pasangan gw dalam cinta. Mengingat kembali apa yang membuat gw mencintai dia sepenuh hati, membuat gw memutuskan berkata," I do…". Karena no body’s perfect kan? Gak juga pasangan kita, apalagi kita sendiri. Disini saatnya kita melihat kedalam diri kita sendiri untuk mengingatkan kembali bahwa kita pun juga gak sempurna. Secara fisik maupun mental.


Basi ya? Hehehehe…buat gw enggak sih. Justru dengan membaca kembali email-email yang pernah dia kirimkan sewaktu masih pacaran dulu, membuat gw selalu diingatkan seperti apa  rasanya jatuh cinta.


Dan gw masih mencintai suami gw….


 

Wednesday, January 17, 2007

Missing : A Husband....??

Masih ingat janji yang kalian ucap didepan altar? Didepan pak penghulu? Ternyata memang gak semudah mengucapkannya yaa..? Sewaktu mengucapkan mungkin pikiran kita lebih banyak dipenuhi bayangan-bayangan keindahan sebuah pesta perkawinan, atau kesenangan-kesenangan lahiriah yang nampak luar biasa dahsyat dalam fantasi kita . Dan pada saat berhadapan dengan kehidupan berumahtangga yang sesungguhnya, barulah kita sadar bahwa komitmen yang kita pilih ini adalah sesuatu yang nyata, bukan dalam pikiran atau angan-angan.


Menyesal? Gak doong........eh, sempet sih terlintas kalo lagi emosi hehehehe...Tapi ketika akal sehat udah kembali, yang begituan mah udah ilang dengan sendirinya. Karena keyakinan untuk berpegang teguh pada komitmen itu jauh lebih besar dibanding emosi yang gak penting gitu...hehehe


Emosi itulah yang mungkin sedikit gw rasain kemaren ketika pulang bareng mbak Ovie. Naek 56 dari Penas (dengan perjuangan gw mengalahkan kepanikan gw terhadap ruang sempit & gelap). Tentang bagaimana kita mulai kehilangan sosok suami. Mulai gak sepenuhnya merasakan kehadiran pasangan kita.


Berangkat pagi-pagi, kita lebih disibukkan dengan urusan persiapan menjelang  berangkat kerja. Alhamdulillah babysitter-nya Emil masih mau bantuin menyiapkan ini itu. Asal Emil duduk manis di stroller, bisa disambi ngerjain banyak hal. Komunikasi gw ama suami berlangsung dalam kisaran 1 jam dijalan, sambil nyuapin dia sarapan. Itu juga kalo tidak ada urusan pekerjaan yang mendadak muncul pagi-pagi. Kayak kalo mau breaking news, pasti lebih banyak nelpon atau nerima telpon dibanding ngobrol ama gw. Sementara ketika masuk tol arah Tanjung Priok, gw udah pengen merem-merem karena ngantuk. Tau sendiri,bow..gw bangunnya lebih pagi karena musti mompa asi dulu . Praktis yang diomongin gak banyak-banyak amat. Apalagi sampe ngomongin yang mendalam atau detil.


Kalo mbak Ovie lebih gak enak lagi. Pagi-pagi dia lebih banyak ngurusin rumah. Apalagi anaknya dua-duanya udah SD. Udah gitu suaminya juga gak nganter ke kantor karena jam kerjanya jauh lebih siang. Makanya dia bilang," Kayak gak punya suami nih. Berangkat gak diantar, pulang gak dijemput. Telpon kalo gak kita yang mancing-mancing juga gak bakalan inget buat nelpon istrinya......". hehehehe...Gw jadi mikir, kok ya mirip gw?


Para suami ini juga pulangnya malem. Nyaris tidak menyisakan interaksi apapun dengan para istri dan anak-anak. Makan malam udah gak bisa barengan lagi. Malah kadang gw udah tidur pas dia pulang. Kalo suaminya mbak Ovie masih bisa berolah raga dengan para tetangga di malam hari. Tapi tetep...gak ngobrol banyak ama istrinya . Yang kesian ya Emil...Anak umur segitu kan lagi masa-masa mengamati dan mengingat atau menghafal apa-apa saja yang terjadi disekelilingnya. Pasti dia dalam hati bingung, kenapa kalo bapak yang satu ini munculnya pagi-pagi saja yaa..?


Untuk week end, saat ini suami gw juga gak bisa diarepin lagi bisa pergi jalan-jalan ke mal bareng. Buat dia mah yang utama adalah istirahat, tidur. Sementara gw masih pengen mentradisikan acara keluarga dengan cara pergi jalan-jalan di hari Sabtu. Entah sekedar makan, belanja atau jalan-jalan saja. Hari Minggu barulah istirahat dirumah. Isi ulang batere biar Senin bisa punya energi untuk kerja lagi. Gak nyambung kan? Yang ada gw bete, tapi si Ian malah hepi bener. Karena kalo gak diajak pergi, dia malah puas maen ama temen-temennya di komplek rumah .


Sampai akhirnya gw mikir, ketika kita memanjatkan doa, kita tidak  tahu akan dikabulkan oleh Allah SWT dalam bentuk seperti apa keinginan kita itu. Karena bisa saja keinginan kita yang satu, akan dialihkan dalam bentuk keinginan yang lain. Jawaban doa yang satu, dijawab dengan jawaban doa yang lain. Kita gak pernah tau...So, gw mencoba untuk selalu mensyukuri apapun yang terjadi dalam kehidupan gw. Anak-anak gw yang sehat, gw syukuri dan gw anggap sebagai jawaban dari doa-doa gw yang laen. Seperti juga ketika suami gw memperoleh jabatan baru, gw bersyukur banget. Mungkin ini jawaban doa gw yang laen. Meskipun dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Enak gak enak, harus diterima dan disyukuri kan?


Dan kembali kepada janji kita dulu...seperti kata Shania Twain :


"I DO SWEAR
THAT I'LL ALWAYS BE THERE
I'D GIVE ANYTHING
AND EVERYTHING
AND I WILL ALWAYS CARE
THROUGH WEAKNESS AND STRENGTH
HAPPINESS AND SORROW
FOR BETTER FOR WORSE
I WILL LOVE YOU
WITH EVERY BEAT OF MY HEART"


.........but, still..I miss my hubby!