Sunday, March 11, 2007

A View From Vie

Kecelakaan GA200 di Jogja awal Maret lalu memberi sedikit catatan buat gw. Ditempat kerja gw, kebanyakan memberi komentar soal kru pesawat yang hampir semuanya selamat. Adalah tugas mereka untuk mendampingi penumpang sampai menit terakhir penyelamatan, dan bukan menyelamatkan diri lebih dulu. Beberapa teman kerja yang ex-cabin crew menegaskan hal ini. Buat gw sih emang make sense,-terlepas dari SOP yang mengikat mereka-, karena setahu gw yang namanya flight attendant memang tugasnya demikian. Bukan semata-mata melayani mengantar makanan dan minuman. Itu hanya tambahan. Hanya saja kalo gw lihat pramugari yang masih muda-muda sekarang memang kayaknya orientasi kerja mereka bukan seperti yang dituntut dalam bisnis penerbangan yang sesungguhnya. Tergambar jelas dalam bersikap, sebagian besar mereka menikmati pekerjaan itu hanya dari sisi senang-senangnya saja. Dan begitu ada kejadian yang menuntut mereka beraksi sebagaimana layaknya seorang flight attendant, mereka baru sadar bahwa kerjaan mereka memang berat resikonya. Pernah gw dengar dari mulut seorang pramugari ditempat gw yang tengah menceritakan pengalamannya ketika bertugas dan mengalami sedikit kendala karena cuaca yang buruk,” Waduh, Mbak…Jadi berasa terbang beneran deh…”. Lhaah…selama ini elo ngapain aja, neng???


 


Tapi kembali ke kasus GA200, apa iya mereka menyelamatkan diri? Kata temen gw, mungkin ketika membantu penumpang keluar dari pesawat, mereka ikut terdorong keluar karena semua penumpang pastinya panik. Gw jadi inget temen sekantor gw (mantan pramugari) yang pernah mengalami kecelakaan pesawat. Waktu itu dia bertugas di pesawat CN235. Dan sewaktu jatuh itu, dia dengan sekuat tenaga bolak balik ke pesawat untuk menyelamatkan penumpang yng masih hidup. Sebelum akhirnya pesawat itu juga meledak dan terbakar. Salah satu hal yang membuat dia sangat sedih dan menyesal adalah dia belum sempat membantu menyelamatkan sang pilot . Trauma yang dia derita sudah pasti berat luar biasa. Sampai butuh waktu yang lama buat dia untuk bisa kembali terbang. Meskipun akhirnya dia memilih untuk berkarir sebagai pegawai darat.


 


Oke lah, misalnya, mereka memang menyelamatkan diri. Pertanyaan gw, apa enggak boleh? Sangat manusiawi to ketika orang ingin mencari selamat? Gw rasa juga gak ada orang didunia ini yang dengan sadar mencari mati. Orang yang sudah hilang akal, mungkin. Beberapa temen gw bilang,”Ya tidak boleh! Sudah pekerjaan mereka begitu. Ada aturannya lho..Ada sanksi internasionalnya lho..Bla bla bla…..”


 


Sementara, ada tetangga sebelah rumah gw yang pramugari Garuda. Kemarin dia jadwal terbang ke Saudi Arabia. You know what? Jam 12 siang anaknya yang sulung (dia punya 2 anak cowok, umur 6 tahunan dan 4 tahunan) mendadak menangis tanpa sebab. Mukanya pucat luar biasa. Dua pembantu dirumah itu sempat panik karena gak biasanya begitu. Ketika ditanya kenapa, anak itu menjawab,”Aku takut,Mbak…Aku takut nanti Mamah kayak yang di tivi tivi itu…..”


 


Sedih gak sih lo dengernya?

10 comments:

  1. setuju Mba..............untuk kasus ini aq juga turut prihatin sama Kpat. Marwanto (pilot GA 200) yang kayanya dah langsung dianggap bersalah dan bertanggun jawab untuk masalah ini. Oke la mank kayanya faktor human error memang ada dlm kecelakaan ini, tapi kebayang ga sey perasaannya pilotnya yang 20an penumpang nya meningggal dalam kecelakaan ini????

    ReplyDelete
  2. UPDATE : tadi pagi pas baru nyampe kantor gw ketemu ama temen sekantor yang seorang kapten F100 dan merupakan anggota KNKT juga. menurutnya, saking luar biasanya impact yang terjadi, cockpit sampai miring menghadap runway. ternyata pula, begitu kecelakaan terjadi, partisi yang memisahkan antara kelas bisnis dan ekonomi seketika menutup. gw gak tau apakah karena seharusnya demikian (sesuai tipe pesawatnya ketika menghadapi kondisi ada kebakaran) atau ya nutup aja tanpa sebab. alhasil, mereka yang selamat konon kabarnya kebanyakan keluar aja lewat lubang yang sudah menganga akibat kerasnya impact. akibatnya, mereka yang meninggal rata-rata yang berada di kelas bisnis :-((

    ReplyDelete
  3. Untung deh gw gak pernah naek bisnis...muahal soale!!!

    ReplyDelete
  4. tapi bukan karena pacarmu pilot juga, non? ;-p

    ReplyDelete
  5. maksud loe itu mbak gendhuk bukan sih?

    ReplyDelete
  6. klo mang iya, kyknya mesti diralat dech :p dia dulu kecelakaan bukan pas terbang CN235 taip BAe ATP 146 :p **secara itu kan type rating gw pertama kali:p**

    ReplyDelete
  7. hah? pernah terbang itu juga? hehehehe..kirain airbus doang ;-p. yup, diralat! :-)

    ReplyDelete