Wednesday, March 14, 2007

Sedikit Kenangan Bersama Arin ;-p


Jaman ruangan gw berhadapan langsung dengan ruangan Arin

Gara-gara si Bibin minta dikirimi logo MZ terpaksa gw bongkar-bongkar file. Dan tiba-tiba ajah nemu gambar-gambar ini disalah satu folder Arin yang tertinggal dikantor. Gw lupa kapannya. Tapi yang jelas gambar-gambar ini sebelum Arin merit. Mungkin sekitar 2002-an kali. Bener gak, Rin? Tapi sayang niy scan-nya rada gak bener jadi meninggalkan semburat warna koneng :-(. Anyway, kami tetep cute kan? Maklum sekarang jadi anggota gerombolan si berat! hehehehehe....

Tuesday, March 13, 2007

Ketika Beranjak Dewasa


Semalam ketika sedang dimeja makan bareng Ian dan Emil (yang duduk manis diatas booster chair-nya sambil makan juga), Ian mengeluarkan celetukan yang membuat gw syok. Awalnya dia bercerita kalo tadi sore dia maen bersama anak tetangga (kelas 3 SMP tapi maennya ama Ian hehehe..). Anak ini panggilannya Aa. Katanya mereka abis berkeliling sekitaran komplek. Termasuk ke perkampungan disekeliling komplek rumah gw.



"Tadi aku ketemu jablai lho, Mam.."
Glek! Gw langsung kaget, "Jablai? Apaan tuh?"
"Jablai..Jablai itu pelacur.."
 Gubrraakkkk!!! Gw langsung syok. My little boy saying that word ???? O M G!! Gw mencoba kalem menghadapinya.
"Emang pelacur apaan?", gw tanya.
"Pelacur..ya pelacur…Masa Mami gak tahu pelacur itu apaan?", balas si Ian.
"Enggak tuh? Emang apaan?"
"Mbak..jawab tuh apaan..", Ian mencoba mengalihkan ke pengasuhnya Emil. Untungnya dijawab kalo pertanyaan itu buat Ian, bukan buat dia. Jadi kenapa harus dia yang jawab?


Akhirnya Ian menjawab lagi," Mami payah begituan aja gak tahu.."
Gw jawab balik," Gak..gak tahu. Mami dulu kan tahunya cuman sekolah aja. Gak tahu yang aneh aneh.."
Trus Ian bilang," Pelacur itu, Mam..Misalnya nih yaa..Papi pergi ke diskotek. Trus ketemu sama perempuan. Perempuan ini goda-godain Papi. Trus mereka ke hotel Gituan. Trus dibayar deh pelacurnya.."
Gubraaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk….Mati deh gw….Gw cuman bisa lihat-lihatan aja sama mbak-nya Emil. Speechless !!!!



Ketika Ian masih mau melanjutkan lagi dengan cerita serupa, gw langsung gak sabar memotong ,"Mami gak pengen denger cerita-cerita yang seperti itu lagi…!". Langsung dia diam. Guys…gw tahu maksud dia cerita itu sebenarnya pengen sharing soal adventure dia. Tapi kenapa harus ada embel-embel soal jablai dan sejenisnya?? Pas gw telpon ke suami gw soal ini, dia sempet tertawa ngakak. Sebel deh…..



Yaaah…siap gak siap yah…? Kayaknya anak gw memang makin beranjak dewasa. Gak mungkin selamanya dalam pelukan gw dan tertidur pulas hanya dengan nyanyian "Nina bobok". Wong dia sudah bisa memilih apa yang dia mau, sudah punya pikiran sendiri. Kalo dipikir-pikir, mungkin sebenernya gw juga udah lebih tahu waktu gw seumuran dia. Tapi rasanya kok tetep aneh ya?



Mungkin ini rasa yang sangat wajar dialami seorang ibu ketika anaknya mulai dewasa. Ada rasa tidak ingin kehilangan romantisme ibu-anak. Padahal si anak mungkin maunya sudah membangun romantisme dalam bentuk lain dengan lawan jenisnya hehehehe….



 


 


 


 

Bad Boy??...

Kemarin pagi, tiba-tiba hape gw berdering dengan tampilan dilayarnya "Rumah Giri". Giri ini adalah temen sekelas sulung gw, yang kebetulan juga tinggalnya satu komplek cuma beda blok. Kami sudah lumayan deket. Baik sesama orang tua, maupun anak-anaknya sendiri. Sempet terlintas dipikiran gw,"Ada apa nih?". Tapi dengan positive thinking tetap gw terima. Ternyata suara Mama Giri diseberang. Sedikit basa basi, lalu meluncur-lah inti permasalahan yang ingin disampaikan : our kids are in trouble. Buat gw, agaiiiiiiiinnn????? Hhhhhhh.... Soalnya masih terbayang kasus terakhir ketika gw berikut papinya dipanggil kepala sekolah karena smack down di sekolah


Ceritanya, ada mama dari teman mereka berdua yang menelepon ke Mama Giri. Mengadukan kalo Giri menendang anak itu dan Ian mencoret-coret baju seragamnya. Si Giri udah langsung dinasehati (baca: dimarahi sedikit..hehehe) sama mama temennya itu maupun dari mamanya sendiri. Untuk Ian, Mama Giri berjanji akan langsung menyampaikan hal ini ke gw. Case closed? Not really.....Ada cerita lain rupanya. Mama Giri bilang memang gak dia sampaikan ke gw pas kejadian. Kasus ini terjadi bulan lalu. Sewaktu Mama Giri mau menjemput Giri pulang sekolah, ditungguin kok lama banget gak keluar-keluar (kalo anak gw ikut antar jemput yang dari sekolah). Ada apakah? Sekitar setengah 3 sore (mungkin lewat), barulah muncul Giri dan Ian bersamaan. Apa yang terjadi? Rupanya mereka disidang oleh guru. Karena apa? Ngembat katering anak kelas 1 !!!!!!!!!!


Haduuh.....gw antara geli sama pengen marah dengernya. Yah didepan Mama Giri gw bisa haha hihi, seperti halnya dia juga.
"Kata mereka cuma ngambil telor, Mbak..Telor dadar...",jelas mama Giri sambil berderai tawa juga. 
Haiyaaaaah..kayak anak Ethiopia aja sampai harus ngambil makanan orang? 
Meskipun pada waktu kejadian mama Giri juga marah-marah dan ngomel panjang pendek ke dua anak tersebut. Khusus Ian, diinfo kalo sementara gak dilaporin ke gw. Tapi harus berjanji gak mengulangi lagi kejadian yang seperti itu.


Tadi malam gw sidang abis-abisan. Meskipun setiap gw tanya kenapa, dia juga gak punya jawaban. Jadi apa yang dia lakukan itu totally hanya keisengan yang tak bertanggung jawab. Khusus soal katering, gw memberi penekanan khusus karena kasusnya sama dengan mencuri. Gak lucu banget kalo benih-benih mencuri begitu dibiarin tumbuh dengan tak terkendali. Nakal boleh, tapi mencuri? No way!


Well, pastinya kita semua pernah mengalami berbagai bentuk kenakalan kala kita masih kecil. Dari yang ringan maupun yang berat. Tapi ketika kenakalan-kenakalan itu muncul didiri anak kita sendiri, kok rasanya jadi ganjelan yah? Mungkin begini juga ya yang dirasakan nyokap gw ketika gw dan 2 abang gw berbuat banyak kenakalan?


Tapi satu hal yang tak pernah lekang, our parents still love us even we were bad. And yeah,..I still love my children no matter how baaaaaaaaaad they are..


 

Sunday, March 11, 2007

A View From Vie

Kecelakaan GA200 di Jogja awal Maret lalu memberi sedikit catatan buat gw. Ditempat kerja gw, kebanyakan memberi komentar soal kru pesawat yang hampir semuanya selamat. Adalah tugas mereka untuk mendampingi penumpang sampai menit terakhir penyelamatan, dan bukan menyelamatkan diri lebih dulu. Beberapa teman kerja yang ex-cabin crew menegaskan hal ini. Buat gw sih emang make sense,-terlepas dari SOP yang mengikat mereka-, karena setahu gw yang namanya flight attendant memang tugasnya demikian. Bukan semata-mata melayani mengantar makanan dan minuman. Itu hanya tambahan. Hanya saja kalo gw lihat pramugari yang masih muda-muda sekarang memang kayaknya orientasi kerja mereka bukan seperti yang dituntut dalam bisnis penerbangan yang sesungguhnya. Tergambar jelas dalam bersikap, sebagian besar mereka menikmati pekerjaan itu hanya dari sisi senang-senangnya saja. Dan begitu ada kejadian yang menuntut mereka beraksi sebagaimana layaknya seorang flight attendant, mereka baru sadar bahwa kerjaan mereka memang berat resikonya. Pernah gw dengar dari mulut seorang pramugari ditempat gw yang tengah menceritakan pengalamannya ketika bertugas dan mengalami sedikit kendala karena cuaca yang buruk,” Waduh, Mbak…Jadi berasa terbang beneran deh…”. Lhaah…selama ini elo ngapain aja, neng???


 


Tapi kembali ke kasus GA200, apa iya mereka menyelamatkan diri? Kata temen gw, mungkin ketika membantu penumpang keluar dari pesawat, mereka ikut terdorong keluar karena semua penumpang pastinya panik. Gw jadi inget temen sekantor gw (mantan pramugari) yang pernah mengalami kecelakaan pesawat. Waktu itu dia bertugas di pesawat CN235. Dan sewaktu jatuh itu, dia dengan sekuat tenaga bolak balik ke pesawat untuk menyelamatkan penumpang yng masih hidup. Sebelum akhirnya pesawat itu juga meledak dan terbakar. Salah satu hal yang membuat dia sangat sedih dan menyesal adalah dia belum sempat membantu menyelamatkan sang pilot . Trauma yang dia derita sudah pasti berat luar biasa. Sampai butuh waktu yang lama buat dia untuk bisa kembali terbang. Meskipun akhirnya dia memilih untuk berkarir sebagai pegawai darat.


 


Oke lah, misalnya, mereka memang menyelamatkan diri. Pertanyaan gw, apa enggak boleh? Sangat manusiawi to ketika orang ingin mencari selamat? Gw rasa juga gak ada orang didunia ini yang dengan sadar mencari mati. Orang yang sudah hilang akal, mungkin. Beberapa temen gw bilang,”Ya tidak boleh! Sudah pekerjaan mereka begitu. Ada aturannya lho..Ada sanksi internasionalnya lho..Bla bla bla…..”


 


Sementara, ada tetangga sebelah rumah gw yang pramugari Garuda. Kemarin dia jadwal terbang ke Saudi Arabia. You know what? Jam 12 siang anaknya yang sulung (dia punya 2 anak cowok, umur 6 tahunan dan 4 tahunan) mendadak menangis tanpa sebab. Mukanya pucat luar biasa. Dua pembantu dirumah itu sempat panik karena gak biasanya begitu. Ketika ditanya kenapa, anak itu menjawab,”Aku takut,Mbak…Aku takut nanti Mamah kayak yang di tivi tivi itu…..”


 


Sedih gak sih lo dengernya?

Saturday, March 10, 2007

Perkembangan Kepandaian Bayi

Usia 1 Bulan
Secara refleks dapat memegang benda yang menyentuh telapak tangannya


Usia 2 Bulan
Dapat Menatap
Dapat tersenyum
Bersuara "a", "e", "h"


Usia 3 Bulan
Menggerakkan benda yang dipegangnya
Memandang gerakan benda dengan bola mata sampai kesudut matanya


Usia 4 Bulan
Bermain dengan kedua tangan dan memasukkan tangan kemulut
Tertawa, bergurau
Tengkurap


Usia 5 Bulan
Menggulingkan badan
Menyentuh mainan
Membedakan suara


Usia 6 Bulan
Bertopang pada kedua kaki
Memindahkan mainan dari satu tangan ketangan yang lain
Menoleh


Usia 7 Bulan
Membalikkan badan
Bermain dengan tangan dan kaki
Mulai mengoceh


Usia 8 Bulan
Belajar duduk
Memperhatikan gerak gerik orang
Tertarik pada bayangan sendiri dalam cermin


Usia 9 Bulan
Merayap
Dapat berdiri tegak bila dipegang
Main cilukba/petak umpet


Usia 10 Bulan
Berayun pada tangan dan lutut
Belajar berdiri sambil berpegangan
Menjapit benda dengan kedua jari tangan


Usia 11 Bulan
Merangkak
Belajar berjalan kesamping (rambatan)
Berjalan bila kedua tangan dipegang


Usia 12 Bulan
Berjalan sendiri
Bermain kejar-kejaran
Dapat mengerjakan tugas-tugas sederhana


 


Sumber : T. Helbruge "365 Hari Pertama"


 

Chair Booster

Seminggu yang lalu Emil kami belikan booster chair. Niatnya sih supaya dia bisa ikutan duduk dan makan bersama di meja makan bareng orangtua dan kakaknya. Sekaligus membiasakan dia untuk duduk tertib di kursi jika sedang makan. Gak jalan-jalan dalam gendongan seperti sekarang. Soalnya pegel juga,bow…kalo pengasuhnya cuti gw musti gendong-gendong dia sambil nyuapin J.


 


Booster chair ini pertama gw lihat dirumah tetangga gw. Anaknya, Dinda (hampir 2 tahun), sudah cukup lama menggunakan. Menurut gw sih cukup menarik. Soalnya bisa diikat dikursi, atau bisa ditaroh aja dilantai.Trus kalo misalnya kita jalan-jalan, kursi ini bisa dibawa karena bisa dilipat dan mudah untuk ditenteng kemana-mana. Masa pakainya juga lumayan lama. Bisa sampai anak berumur 4 tahun. Tergantung ukuran anaknya juga sih. Kalo segede bayi kingkong pasti sebentar lagi udah gak muat hehehehe…


 


Waktu cari referensi harga ke tetangga gw, katanya dia beli 385ribu di ITC Fatmawati. Trus pas dia beli lagi untuk saudaranya, dapat harga 320ribu di ITC Kuningan(kalo gak salah nama tokonya Ocha). Nah, pas gw minggu lalu ke baby shop langganan gw di ITC Kuningan (toko Jungle) iseng-iseng nanya harga. Eh, ternyata 300ribu! Langsung deh gw beli. Mumpung dapat lebih murah karena gw paling gak jago nawar  hehehehe…Sekarang lihat gayanya deh....(sayang burem karena pakai hape. nanti kalo sempet diganti dengan hasil jepretan kamera ;-p)...


Celana Dalam Imut


ISK Emil yang berkepanjangan membuat gw harus melakukan berbagai upaya untuk menyikapinya. Salah satunya dengan mengurangi pemakaian popok sekali pakai (pospak). Meskipun sebenarnya setelah ada pengasuh, Emil hanya sekali menggunakan pospak yaitu malam hari. Atau kalau sedang pergi jalan-jalan. Berbeda dengan ketika baru lahir. Kalo gw udah kecapekan dengan urusan gonta ganti popok atau celana (maklum,bow…ASI, jadi sering banget pup ;-p), langsung deh gw pakai pospak. Beres! J


 


Saat ini malam hari pun Emil tidur tanpa pospak. Tidurnya musti dialasi plastik (perlak). Sebenernya kalo malam hari anak gw ini relatif jarang pipis. Biasanya dia pipis kalo memang sudah waktunya bangun. Hanya kadang-kadang kalo udara terlalu dingin atau minumnya banyak, dia suka pipis sekali ditengah malam.


 


Nah, karena lebih banyak gak pakai pospak, akhirnya gw beliin dia celana dalam. Meskipun Emil udah dilatih pup pakai potty, tapi namanya anak-anak kan suka diluar kehendak. Kalo pake celana biasa ya jelas kemana-mana pupup-nya J. Pipisnya juga. Kalo cuma pakai celana selembar, pipisnya lebih mudah merembes. Makanya gw beli celana dalam bayi itu.  Waktu pertama kali lihat wujudnya, gw setengah gak percaya. Masa ada sih?? Well…it’s true. Memang ada J. Sampai tetangga gw berkomentar,”Wah..Emil gaya bener, kecil kecil udah pake celada dalem..” hehehehe…Lihat sendiri deh. Imut-imut banget kan?