Tuesday, May 13, 2008

Anak & Tipi

Semalam (12/5/08) gw menonton acara Super Soulmate Show di Indosiar. Bukan penggemar sih. Maksudnya, dibandingkan waktu Mamamia Seleb Show yang sering gw tonton, yang ini hanya sesekali saja kalo kebetulan remote tipi kepencet trus ada yang menarik. Dan ada yang sedikit menggelitik hati dan pikiran gw ketika nonton tadi malam.

 

Salah satu pesertanya adalah Benjo, anggota kelompok musik komedi Teamlo (beberapa personil Teamlo pernah nge-band bareng sama gw duluuuuu banget waktu masih di Solo. Tapi yang Benjo ini gw gak gitu kenal). Si Benjo ini membawa seorang laki-laki berdandan perempuan sebagai soulmate-nya. Well, there’s nothing wrong about it. Toh si Ivan Gunawan yang hadir sebagai Nona Igun juga memiliki tampilan perpaduan antara laki-laki dan perempuan. Kebetulan si ”laki bukan perempuan bukan” ini punya kiprah seabrek di Solo. Sewaktu dia menyebut sebagai presenter, langsung ingat waktu gw pulang kampung akhir tahun lalu memang gw sempat terheran-heran menyaksikan acara talkshow di stasiun teve lokal dengan host seorang berpenampilan wanita tapi kok bentuk aslinya laki-laki. ”Ooh...jadi ini orang yang sama toh...”

 

Tiba-tiba perasaan gw jadi gak enak. Pikiran gw sedikit dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin buat sebagian orang gak penting. Tapi buat gw mengganggu juga. Untuk diketahui bahwa selama ini anak bungsu gw suka menonton acara Mammamia di stasiun yang sama. Namanya anak-anak, ketika acara lain dikemas serupa muncul (Super Seleb Show, Super Soulmate Show, dll) buat anak gw tetep bernama Mammamia. Dimana disitu ada Oom Eko, ada Oom Ruben, ada Ivan Gunawan. Kalo Ivan Gunawan semata yang berdandan perempuan, gw masih bisa menjelaskan meskipun agak ngawur misalnya : ”Itu badut”..(maap kalo kejam) atau apa saja yang dapat dia pahami dengan pola pikirnya sendiri. Tapi ketika penampil serupa sering bermunculan, gw kepikiran. Tengok pula gaya Dave Hendrik di Idola Cilik-nya RCTI (kebetulan anak gw juga suka nonton ini) atau acara Be A Man-nya GlobalTV yang lebih terang-terangan (yang terakhir ini tayang malem banget sih dan bungsu gw pasti gak nonton. Tapi yang gede masih bisa nonton).

 

Apa jadinya kalo anak gw disuguhi tontonan yang demikian berkali-kali?

 

Jujur sebenarnya gw gak pernah ada masalah dengan gaya hidup penyuka sejenis. Banyak temen gw yang demikian. Gw gak diskriminatif. Intinya, secara sosial gw baik-baik saja bergaul bersama mereka.

 

The problem is, bagaimana gw harus menjelaskan kepada anak gw? Secara agama, jelas agama gw tidak membenarkan praktek kehidupan seperti itu. Tapi menjelaskan secara sosial, gw juga bingung. Kalo terlalu permisif, jangan-jangan si anak salah menangkap. Sumpah, sebagai orang tua gw maunya anak-anak gw besar dengan baik dan normal. Tanpa penyimpangan-penyimpangan apapun. Kalo terlalu agresif, gw takut dianggap membenci. Karena tidak mungkin mengajarkan kebencian pada anak-anak. Itu juga salah.

 

Haduuuh....musti gimana coba???

 

 

*gambar ambil disini*

Monday, May 12, 2008

Emil 2nd Bday

Start:     Jun 23, '08
Location:     Dunno know yet
Maunya dirayain pas wiken dan digabung dengan syukuran kelulusan kakaknya (kalo lulus hwaaaaaaaaaaaaa.....jadi worry lagi neh...)

4th Anniversary

Start:     Jun 23, '08
Location:     Dunno know yet

Ian UASBN

Start:     May 13, '08 03:00a
End:     May 17, '08
Location:     SDI Al Azhar Syifa Budi Cibubur - Cileungsi
Mohon doanyaaaaaaaaaa yaaaa....

Sunday, May 11, 2008

UASBN 2008

Besok pagi, tepatnya hari Selasa tanggal 13 Mei 2008 akan menjadi masa bersejarah bagi gw dan keluarga. Karena hari Selasa sampai dengan Sabtu ini, anak sulung gw akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Mencermati berita-berita maupun artikel yang bertebaran diberbagai media nasional yang membahas masalah tersebut, nampak jelas kepanikan berjamaah antara orang tua dan anak-anak kelas 6 esde se-Indonesia. Teman dikantor yang punya anak seumuran juga mengalami eskalasi kepanikan yang sama.

 

Sebenernya kalo dibilang panik, gw gak terlalu sih. Gw lebih santai dibanding suami yang justru selalu mengingatkan gw untuk lebih fokus ke si sulung saat ini. Maklum, hari-hari kan gw lebih banyak perhatian ke si bungsu karena usianya yang masih bayi.

 

Tapi ya tetep aja ketakutan gw lumayan besar. Soalnya melihat gaya belajar anak gw, semangat yang biasa-biasa aja, dan hidupnya yang kayak tanpa cita-cita…….asli gw kepikiran! Walaupun kekhawatiran gw sedikit tertolong karena dia sudah keterima di esempe yang dia dan gw mau. Jadi tinggal mengupayakan aja agar UASBN ini lulus dan udah… gak ada lagi deg-degan nunggu pengumuman masuk esempe.

 

Jadi,  yang bisa gw lakukan sekarang  adalah  : tetap cerewet dan berdoa lebih keras. Semoga Allah mengabulkan doa gw….Amiiin.

 

Tante, Oom, Kakak…doain Ian yaaaa supaya lulus UASBN-nyaaa…..

Terima kasih..

 

 

*gambar ketika Ian lagi teler di Gambir karena amandelnya bengkak, sambil nunggu kereta yang akan membawanya pulang ke Solo. waktu itu masih kelas 1 atau 2 esde (maaan.....he's really grown up!)*

Tuesday, April 1, 2008

Berteman, Bersahabat, Bersabarlah…

Punya teman? Punya sahabat? Pasti doong…Harusnya sebuah persahabatan dan pertemanan akan membuat hidup kita lebih indah dan bermakna. Karena kita disadarkan akan pentingnya menghargai orang lain dan bagaimana menjaga agar silaturahmi antar teman selalu dalam kondisi yang baik. Dalam kenyataannya, pengalaman mengajarkan banyak hal yang berkebalikan dengan harapan kita. Tidak selalu harus disikapi sebagai hal buruk yang menyedihkan. Karena toh pengalaman buruk pada dasarnya menjadi guru terbaik buat kita dalam mengarungi kehidupan. Klise? Ya siih…tapi itulah yang terjadi.

 

Kakak gw adalah orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai pertemanan. Apapun akan dia lakukan untuk yang namanya teman atau sahabat. Gw ingat dulu Mamah pernah kelimpungan nyari sprei kesayangannya. Usut punya usut ternyata diambil kakak gw untuk diberikan kepada nenek sahabatnya. Alasannya? ”Kasihan...dia gak punya”..... Padahal waktu itu hidup kami juga boleh dibilang tidak berkecukupan. Omelan panjang pendek si Mamah tidak mempengaruhi kakak gw. Teman is the best. Tapi kemarin, karena pertemanan dengan seorang perempuan membuatnya berada dalam masalah keluarga. Salah paham dengan sang istri membuat posisinya terpojok. Penjelasan dalam bentuk apapun juga sulit diterima. Mana ada istri yang dikalahin sama perempuan lain yang judulnya sebagai teman?? Nenek-nenek dari Hongkong juga tahu kalee.... Namanya sudah menikah, prioritas utama ya keluarga. Ketika ipar gw telpon rasanya gw langsung emosi campur gemes sama kakak gw. Hhhhhh......

 

Sabaarrrr....

 

Soal sahabat juga membuat kenyamanan gw bekerja dikantor berkurang. Ceritanya, selama ini gw bersahabat dengan manager gw. Laki-laki. Tapi satu pagi boss gw manggil untuk urusan kerjaan, dan tiba-tiba dia bilang,”Mbak..mbok jangan terlalu sering duduk didepan meja Mas W..” blaa blaa blaa.... Persahabatan yang selama ini gw jalani dengan baik dan benar (maksudnya bener-bener bersahabat dan bukan ”bersahabat”) dipertanyakan. Gw jadi bingung, ada yang salah gitu? Padahal alasan gw duduk disitu karena gw suka mencuri ilmu. Banyak hal yang gw pelajari dari dia. Hal-hal terkait pekerjaan tentunya. Sesekali aja soal ilmu agama. Teman-teman di kantor ketika gw bagi cerita soal ini pada ketawa ngakak. Umumnya memberi komen yang sama,”Lo bilang doong, besok lo pindah duduk ke ruangan dia aja biar dia gak cemburu!” Waakkss!!!!

 

Sabaarrrr....

 

Dan yang lebih bikin emosi lagi ketika sahabat yang selama ini kita kenal berubah menjadi menyebalkan. Bahkan cenderung membuat gw merasa malu. Tapi...apa mau dikata? Orang punya pandangan hidup masing-masing. Gw gak berhak mengatur hidup orang lain. Disinilah mungkin batas bersahabat menjadi kabur. Perasaan sayang kita, perhatian kita, ikatan emosional yang selama ini ada, perlahan-lahan menepi. Meninggalkan kita sebagai satu individu utuh. Diri kita yang sesungguhnya. Kehilangan? Pasti.... Tapi apa yang bisa kita lakukan?

 

Sabaaarrrrrrr.......

 

 

*gambar ambil disini*

Tuesday, March 18, 2008

Sebagai Ibu

Menjadi seorang ibu adalah sebuah pengalaman yang menakjubkan. Tidak hanya proses kehamilan, melahirkan maupun merawat sang anak, namun juga proses membesarkan si jabang bayi menjadi individu yang berkualitas. Seorang teman berkata, pekerjaan rumah seorang ibu adalah bagaimana berkomunikasi dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. Karena dengan demikian, seorang ibu akan dapat membantu si anak menyiapkan mentalnya menghadapi kehidupan yang tidak selalu menyenangkan. Bahkan pernah dalam sebuah tayangan acara teve Oprah (episode Hari Ibu), ditegaskan bahwa menjadi seorang ibu adalah sebuah  proses pembelajaran tanpa henti. Para ibu tidak pernah mendapat panduan pasti bagaimana membesarkan anak-anaknya. Setiap anak adalah unik. Ditambah lagi perkembangan jaman yang cepat sekali berubah. Apa yang kita alami dahulu kala, tentunya hadir dalam format yang berbeda pada anak-anak kita sekarang.

 

Anak sulung gw, Ian, lahir dikala gw masih sangat muda. 21 tahun kurang 1 bulan. Bagaimana harus membesarkannya? Hal termudah yang dilakukan ibu muda yang baru melahirkan adalah menoleh pada ibu kandungnya. Apa yang pernah mamah kita lakukan, menjadi panduan kita dalam mengambil sikap. Lebih banyak mendengarkan dan meniru karena kita benar-benar kosong. Apakah berhasil? Beberapa iya, beberapa tidak. Karena toh Mamah gw tetap mengeluarkan jurus teriakan lantang menggema ketika menghadapi polah si Ian memanjat tiang listrik diusia yang belum genap 5 tahun. Sementara ketika gw berusaha menerapkan sendiri aturan ala gw, misalnya menyuruh Ian pergi sekolah (taman kanak-kanak) dengan menaiki sendiri sepedanya, gw terpaksa berhadapan dengan kemarahan Mamah gw.

 

Dan sekarang ketika gw gak bisa menoleh lagi ke Mamah, banyak hal terjadi seiring perkembangan usia anak sulung gw. Satu-satunya panduan gw adalah apa yang gw alami dan lakukan dimasa lalu. Mendaftar sekolah, misalnya. Sewaktu gw mendaftar esempe dulu, gw cukup naik sepeda dan menyerahkan sendiri dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Dan gw cukup pede untuk mendaftar ke esempe terbaik & terfavorit di kampung halaman gw karena nilai NEM yang rata-rata diatas 8. Tapi anak gw? Nilai rapornya saja dibawah rata-rata kelas meskipun tidak jelek-jelek amat. Sama sekali gak punya motivasi mau sekolah dimana dan seperti apa. Jadi untuk memilih mau melanjutkan kemana pun harus dipilihkan. Karena pilihan dia lebih kepada pilihan teman-temannya. Gak peduli sekolah itu sesuai untuknya atau tidak. Jadi, panduan pengalaman gw sama sekali gak berlaku dalam menghadapi si sulung cari sekolah. Akhir pekan lalu merupakan puncak penantian gw apakah Ian diterima atau tidak. Kekhawatiran menemani gw sepanjang minggu ini.

 

Tapi tiba-tiba kekacauan lain muncul lebih dulu. Hari Jumat (14/3/08) malam, telepon rumah berdering. Si embak bilang,”Mau bicara dengan orang tua Febrian, Bu..” Perasaan gw mendadak tidak enak. Ada apa ya? Siapa ya? Apa sekolah yang baru mau memberitahu hasil tes masuk? Karena Sabtu (15/3/08) adalah pengumuman hasil tes. Atau Ian bikin ulah lagi? Atau....???

 

”Halo, Ibu...nama saya T. Saya adalah ibu dari si A. Anak saya dan dan ibu satu kelas ditempat les E. Tadi sore sewaktu didalam kelas, anak saya dipelintir kedua tangannya sama Ian”. Deg! Jantung gw berdegup kencang. Meskipun demikian gw tetap memasang telinga untuk menyimak kata demi kata yang keluar dari seberang telepon.

”Didorong dan dibanting. Pantatnya juga ditusuk-tusuk pakai pulpen. Sampai sekarang anak saya  kesakitan, badannya biru-biru semua...bla bla..bla....”

Hati gw langsung hampa. Badan terasa lemas. Apa yang gw bisa lakukan adalah istighfar dan mencoba untuk tetap sadar. Dan dengan kesadaran itulah gw meminta maaf dan minta waktu untuk menyelesaikan masalah ini secara internal terlebih dahulu. Gw minta nomer teleponnya. Emosi gw untuk menghajar anak gw rasanya sudah di ubun-ubun. Tapi justru ketika kemarahan gw sudah demikian sangat, gw menjadi malas untuk menemuinya.

 

Jadi, langkah pertama adalah menelepon suami. Kepanikan seorang ibu nampaknya memang harus bertemu dengan ketenangan seorang ayah. Suami gw bilang bahwa besok pagi Ian harus diantar kerumah anak itu untuk minta maaf. Lalu gw menelepon kakak laki-laki gw yang di Solo. Selama ini dia memang paling perhatian ke Ian. Kepanikan gw dijawab dengan kepanikan. Gw paling gak bisa jika merasa dipojokkan. Apa yang harus gw lakukan?? Gw gak punya referensi. Gak semua anak memiliki rekam jejak seperti Ian.  Gak ada Mamah untuk diajak bertukar pendapat. Suami belum sampai dirumah. Akhirnya gw menelepon sahabat gw yang psikolog. Lumayan menenangkan hati.

 

Tapi ternyata kedamaian belum sepenuhnya jadi milik gw saat itu. Telepon rumah tiba-tiba berdering lagi. Kali ini suara laki-laki di seberang. Mengaku sebagai bapak si A dan mengeluhkan hal yang sama. Hanya saja kali ini ada tambahan kalimat yang membuat gw super panik,” Kalau ternyata nanti hasil pemeriksaan ada apa-apa, saya mohon maaf, Bu, terpaksa saya bawa ke polisi masalah ini”. Hati gw sudah tidak keruan. Terbayang di pikiran gw kisah-kisah anak-anak yang karena ketidakmampuan mereka memperhitungkan segala sesuatu berakibat fatal di kantor polisi. Bahkan di penjara seperti kisah anak yang di Sumatera dulu. Mau bener atau salah, yang namanya apes bisa jadi apa saja. Apalagi kita berbicara soal anak-anak. Berbuat A belum tentu berpikir akan akibatnya yang B. Alhamdulillah diantara lidah yang nyaris kelu dan badan lemas serta otak kacau tidak karuan, gw bisa menjawab kemarahan si bapak dengan ketenangan yang hanya Allah SWT yang tahu kenapa gw bisa demikian. Gw memohon maaf berkali-kali dan menyampaikan bahwa besok pagi kami memang berencana untuk berkunjung dan meminta maaf secara langsung. Gw menanyakan dimana alamat rumahnya.

 

Sesudahnya, tangis gw langsung pecah ketika menelpon suami. Tapi ya tidak ada yang bisa dilakukan karena hari sudah malam.”Besok pagi saja, biar semua emosi mengendap,” kata suami gw menenangkan. Tenang gak tenang, gw berangkat tidur. Gw makin gak sanggup menemui Ian. Dan suami gw memang berjanji kalau dia sampai rumah hal pertama yang akan dia lakukan adalah menemui Ian dan mengajaknya berbicara. Hasilnya? Datar saja. Itulah anak sulung gw. Dan itu juga yang membuat emosi gw sering memuncak dalam menghadapinya. Kayak orang yang gak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir. Capek dehhh..... Alasannya si anak itu menyembunyikan mp3 player-nya, dll dst. Apapun, jelas tidak memberi ruang baginya untuk boleh melakukan kekerasan.

 

Sabtu (15/3/08) pagi-pagi sekali suami gw sudah pergi membawa Ian ke rumah anak tersebut. Gw menolak ikut. Sumpah gw masih stres. Semalaman nyaris gw gak bisa tidur. ”Bagaimana jika...” memenuhi pikiran gw. Gw kebagian tugas menelepon wali kelasnya untuk memberitahukan bahwa hari itu Ian terlambat mengikuti kelas pemantapan.  Hasilnya, menurut suami gw berjalan dengan baik. Nampak bahwa si bapak anak itu juga menghargai itikad baik suami gw yang datang pagi hari itu bersama Ian. Alhamdulillah penerimaannya baik  meskipun apa yang sesungguhnya terjadi belum sepenuhnya bisa dipahami. Tapi itu bukan tujuan utama kami. Bagi kami yang utama adalah meminta maaf. Tidak ada salahnya meminta maaf. Meskipun siapa yang salah, selama demi kebaikan tidak apa-apa. Kebaikan itu salah satunya juga memberi pelajaran buat Ian. Pelajaran dalam menghadapi kehidupan ini bahwa kalau kita berbuat sesuatu pasti ada resikonya. Dan tentunya pelajaran moral bahwa menuruti emosi bukanlah jalan keluar setiap masalah.

 

Siang harinya, masih ada telepon dari tempat kursus. Diminta kehadiran orang tua Ian disana jam 1 siang. Waktu gw lirik jam tangan, jam 1 kurang 10 menit. Ini mah artinya menyuruh saat ini juga. Baiklah, gw dan suami menuju kesana karena kebetulan posisi kami sekeluarga sedang mengarah keluar komplek. Rencananya mau melihat pengumuman hasil tes masuk esempe. Jadi, berkumpul sudah 3 keluarga. Karena ada 1 keluarga lagi yang menurut bapak si A merupakan provokator kelas itu. Dipandu direktur tempat kursus dan pengajar, terjadilah dialog singkat. Gw dan suami lebih banyak diam. Toh tidak ada gunanya diperpanjang. Cerita anak-anak tidak akan pernah sama. Mau dilihat dari sisi manapun. Yang jatuh dianggap didorong, yang dorong merasa gak nyenggol, dan lain sebagainya. Yang pasti, gw mengemban misi mengajarkan hikmah dari kejadian ini kepada Ian. Itu tugas gw sebagai orang tua, sebagai ibu.

 

Kejadian ini sudah pasti membuat gw belajar bagaimana menjadi orang tua, bagaimana menjadi ibu. Mungkin juga Allah memang menyentil agar gw lebih memperhatikan Ian. Karena selama ini setiap pulang kantor yang selalu gw kejar adalah hilangnya waktu gw mengasuh Emil dari pagi hingga sore. Dalam pandangan gw, Ian sudah cukup besar untuk dilepas. Tapi ternyata, kedewasaannya belum datang seperti yang diharapkan. Mungkin memang Allah mengingatkan gw untuk lebih hadir dalam hari-hari Ian. Tidak sebagai teman. Tapi, sebagai ibunya.

 

 

*best thing happened on that weekend : Ian passed the test. Alhamdulillah.*