Selama cuti bersama Lebaran, yang notabene termasuk hari-hari ditinggal mudik pembantu bersama , gw mengamati adanya fenomena bersama pula, yaitu anak-anak yang bersama-sama jadi susah makan. Normalnya, bayi-bayi kita ini akan menyelesaikan porsi makannya dalam waktu setengah jam, misalnya. Tapi bersama ibu-ibu yang melahirkan mereka sendiri, waktu yang dibutuhkan bisa menjadi dua kali lipat.
Beberapa menempuh cara praktis, seperti gw, dengan menggunakan makanan instant. Malah ada anak temen gw yang maunya Bubur Miiiiiiiiii mulu…. Dikasih produk lain juga ogah. Hasilnya si emak jadi terpaksa nambah jatah minum susu supaya anaknya enggak kelaparan. Ada yang menempuh cara persuasif. Cara-cara membujuk diterapkan. Seperti yang gw lakukan. Waktu yang dibutuhkan memang lebih lama. Tapi rumah gak berantakan, emosi gw lebih bisa terjaga. Pokoknya aman terkendali dah….. Meskipun gw juga menempuh cara lain, yaitu mengurangi porsi makan. Biasanya Emil makan 1 piring penuh, yaaah..gw cuman sanggup kasih 75%-nya. Sisanya gw dorong dengan minum Pediasure hehehehe.....
Tapi ada juga yang menempuh cara konfrontatif. Sedikit keras. Ada temen gw sampai emosi dan melemparkan piring berisi makanan kehadapan si anak. Hasilnya? Si anak terbengong-bengong gak mudheng. Gw rasa juga si emak sudah capek dan mudheng lagi musti ngapain hihihi.....
Heran yah....para ibu yang melahirkan, tapi tidak menjamin para anak mau makan bila disuapin oleh mereka. Apakah karena sama ibu sendiri mereka jadi lebih manja? Atau sebenernya anak-anak itu sudah dicekoki jampi-jampi oleh para mbak supaya hanya mau makan sama mereka?
Hhmmmm....